Kamis, 07 Januari 2010

Sikap Atas Naiknya Harga Beras

Pemerintah jangan ambisi untuk meningkatkan jumlah beras yang akan di ekspor ke luar negeri sebagaimana yang di sampikan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Bayu Krisnamurthi di Jakarta, usai Temu Wicara dengan Penerima Penghargaan Ketahanan Pangan 2009

Fakta di lapangan sejak bulan desember 2009 sampai hari ini harga beras terus melambung naik dari Rp 5000/kg mencapai Rp 7500/kg ini terjadi pasar masbagik lombok timur dan berapa daerah lainnya di nusa tenggara barat

Pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Hery Erpan Rayes mengatakan, naiknya harga beberapa jenis kebutuhan pokok tersebut karena dampak psikologis dari meningkatnya permintaan konsumen sebelum perayaan Natal dan menjelang Tahun Baru 2010 Tidaklah benar karna berapa event natal,tahun baru udah lewat dan beras tidak turun bahkan trus naik yang di ikuti oleh berapa kebutuhan lainnya seperti gula pasir dari Rp10.500 naik menjadi Rp12.500 per kg, bawang merah jadi Rp11.700 dari Rp10.300 per kg, dan bawang putih dari Rp12.000 menjadi Rp22.000 per kg.

Langkah yang di ambil pemerintah dalam mengatasi kenaikan harga beras dan kebutuhan pokok lainnya berupa penyalura kembali beras untuk rakyat miskin (Raskin) mulai pekan pertama Januari 2010 atau lebih awal dari tahun-tahun tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah hal ini di lakukan setiap tahun hanyalah merupakan peredam kejut dari gejolak kenaikan harga

Sebenarnya ini bermuara dari politik perberasan nasional yang tidak tegas berpihak pada rakyat terbukti dengan di likwidasinya peran bulog yang tugasnya meyerap gabah petani tidak membeli gabah dengan harga tinggi lalu pa yang menyebabkab harga beras naik ,bagi kami dari serikat tani nasional(STN) nusa tenggara barat naiknya harga beras karna menyempitnya lahan pruduktive yang menghasilkan padi akibat pembangunan hotel dan real estate serta ekonomi industry yang di kuasi modal asing yang di perparah dengan kebijakan pemerintah yang tidak menopang petani dengan modal dan teknologi yang moderent yang hasilnya jelas bisa kita rasakan spanjang tahun yakni impor beras(kebijakan neoliberal),mengahdapi kenaikan harga beras kali ini kami dari Serikat Tani Nasional bersikap :

1. Pernyataan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB, H. Hery Erpan Rayes yang mengatakan naiknya harga karena dampak psikologis dari meningkatnya permintaan konsumen sebelum perayaan Natal dan menjelang Tahun Baru 2010 adalah pernyataan yang membohonggi rakyat sesungguhnya kenaikan harga ini akibat ketidak mampuan pemerintah meningkatkan pruduksi beras akibat petani yang tidak di berikan modal,teknologi modernt dalam mengolah lahan yang semakin menyempit yang ujung nya pemerintah akan melakukan impor beras yang merupakan kebijakan neoliberalisme dan menguntungkan para pengusaha spekulan
2. Untuk menurunkan harga beras yang kian melambung maka segera pemerintah baik pusat maupun daerah memberikan pasilitas kepada petani berupa modal,teknologi (pupuk,obat-obatan dll)modernt karna sampai hari ini petani khususnya di NTB belum bisa menebus pupuk sesuai rencana dasar kebutuhan kelompok (RDKK) karna kekurangan modal jika ini tidak di lakukan kan berpeangaruh pada pruduksi beras
3. Mengembalikan peran bulog untuk memonopoli pemebelian gabah(beras) petani

Demikia surat ini di buat teriam kasih…!!!

Tanah, Modal, Teknologi Murah-Modern-Massal Dengan Pertanian Kolektif dibawah
Kontrol Dewan Rakyat/Tani !

Mataram , 07 januari 2010
Komite Pimpinan Wilayah Serikat Tani Nasional
Nusa Tenggara Barat

Ahmad Rifai
Badan Koordinator

Tidak ada komentar:

Posting Komentar