Newmont Perlu Rasionalisasi Tawaran Divestasi Saham
Kapanlagi.com - Perusahaan tambang emas dan tembaga di Batu Hijau, Pulau Sumbawa, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) perlu merasionalisasi tawaran divestasi (pelepasan saham) tahun 2008 yang nilainya hampir dua lipat dari tahun sebelumnya.
"Rasionalisasi itu amat penting karena berkaitan dengan etiket baik Newmont dalam memberdayakan masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui upaya nasionalisasi saham usaha penambangan," kata Kabag Humas Pemerintah Provinsi NTB, Ibnu Salim di Mataram, Rabu.
Salim mengemukakan hal itu ketika menanggapi aksi massa Jaringan Rakyat Untuk Nasionalisme (Jarnas) NTB di Jalan Langko, depan Kantor Gubernur NTB.
Jarnas yang terdiri dari Serikat Tani Nasional (STN), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) dan Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) menuding NNT tidak menunjukkan itikad baik dalam proses divestasi saham.
Dalam aksi massa, Rabu (16/4) siang itu, selain berorasi, Jarnas membawa puluhan lembar spanduk dari karton manila yang bertuliskan kata-kata mendiskreditkan NNT.
Jarnas juga menyerukan kepada semua elemen masyarakat di NTB agar melawan keengganan Newmont dalam merealisasikan nasionalisme perusahaan tambang emas dan tembaga di Pulau Sumbawa itu.
Menurut Salim, aksi massa Jarnas itu merupakan bagian dari suara hati rakyat NTB yang menghendaki Newmont menunjukkan etiket baik dalam proses divestasi saham.
Sejak awal April lalu, NNT sudah mengirimkan surat penawaran divestasi saham tahun 2008 sebesar tujuh persen senilai 426 juta dolar AS atau 60,9 juta dolar AS per satu persen saham ke Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro pada 28 Maret lalu.
Sesuai kontrak karya, pemerintah harus merespon penawaran saham tersebut paling lambat satu bulan.
Nilai tawaran tujuh persen di tahun 2008 itu menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan tawaran serupa di tahun 2007 yang juga sebesar tujuh persen saham dengan nilai 282 juta dolar AS atau 40,3 juta dolar AS per satu persen saham.
Saham divestasi NNT tahun 2006 lebih rendah lagi yakni sebesar 109 juta dolar AS atau 36,3 juta dolar AS per satu persen saham.
"Peningkatan nilai saham yang hampir dua kali lipat itu mengundang pertanyaan. Apa betul karena harga minyak bumi dan batubara di pasaran dunia melonjak sehingga Newmont meningkatkan nilai saham seperti itu atau ada maksud lain," ujar Salim dengan nada tanya.
Dia mengatakan, peningkatan nilai saham yang ditawarkan Newmont hanya dalam kurun waktu setahun itu pun terkesan bertolak belakang dengan upaya Newmont ingin menerapkan "community development" (pembangunan masyarakat) untuk memberdayakan masyarakat.
Nasionalisasi saham Newmont merupakan upaya nyata memberdayakan masyarakat NTB karena pemerintah daerah memiliki hak dalam pengembangan perusahaan tambang itu.
"Intinya, sambil menunggu proses arbitrase internasional, Newmont perlu menunjukkan etiket baik dalam bentuk rasionalisasi nilai divestasi saham," ujar Salim. (*/lin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar